I dedicate this blog as my love to the world of education and learning Indonesian. As an embodiment share for the other. Teachers, students and parents can work better for future students better.
Thursday, March 17, 2011
Struggle
Hari itu merupakan kedua kalinya saya pergi ke Sanggar Anak Akar. Awalnya, saya merasa sedikit canggung saat berkenalan dengan anak-anak di Penas, namun karena ini merupakan kedua kalinya saya pergi ke Penas, tidak lama kemudian rasa canggung saya hilang.
Hari itu kami sama sekali tidak ingat untuk membawa gunting, sehingga terjadilah rebutan gunting. Namun, saya senang anak-anak yang walaupun pada awalnya berebutan akhirnya mau mengantri dan bersabar menunggu gilirannya untuk menggunting kain.
Hal yang paling berkesan buat saya pada hari itu adalah ketika membuat prakarya bersama Raka dan Ferdi. Raka minta untuk diajari menjahit namanya pada kain. Pertama - tama saya memberikan contoh cara menjahit, setelah itu ia mencobanya sendiri. Saya sangat kagum karena ternyata ia mampu menjahit dengan rapi! Saya juga kagum pada Ferdi yang bersikeras mencoba menjahit sendiri walaupun hasil akhirnya tidak karuan dan tidak bisa selesai. Saya kagum akan sikap mereka berdua yang mau berusaha terlebih dahulu. Mereka justru tidak mau prakaryanya dibuatkan. Mereka ingin berusaha sendiri untuk menjahit nama mereka.
Padahal dalam hidup sehari - hari, seringkali kita menyerah duluan ketika dihadapkan pada situasi sulit atau suatu hal yang belum pernah kita coba sebelumnya. Kita bahkan kadang cenderung untuk menghindari hal - hal tersebut. Dari sini saya belajar bahwa dalam keadaan seperti itu yang semestinya kita lakukan adalah mencoba terlebih dahulu. Yang terpenting bukanlah hasil akhirnya, melainkan prosesnya dan kemauan serta keberanian kita untuk mencoba.
Secara keseluruhan kegiatan hari ini sangat menyenangkan. Saya senang bisa berinteraksi dengan anak-anak di Penas, sampai-sampai tak terasa sudah jam 3 sore lewat. Walau ini sudah kedua kalinya saya pergi, saya tidak merasa bosan. Rasanya seru sekali bermain dan membuat prakarya bersama teman - teman di Penas!
Claudia Erika
Wednesday, March 9, 2011
BERBAGI
Hari ini, pertama kalinya saya pergi ke sanggar akar. Banyak hal yang terbayang di pikiran saya akan apa yang akan terjadi hari inI. Pagi harinya, cuaca tidak mendukung. Hujan deras turun terus-menerus, bahkan hingga saya sampai di halte SGU. Saya tiba disana pukul 11.20, tetapi hanya ada empat orang, termasuk saya, yang ada di halte. Bu ketika semua telah hadir, bus pun datang, tapi Bu Purwi belum datang sehingga kami harus naik bus pukul 11.50. Kami sampai di sanggar jam satu lewat dan tiba di halim sekitar setengah dua. Sesampainya di sana, tak lama kemudian anak-anak berdatangan. Mayoritas yang datang adalah perempuan, laki-lakinya hanya dua anak. Dua perempuan diantaranya ada yang sudah SMP dan SMA. Walau sudah cukup dewasa, mereka tetap antusias dalam melakukan kegiatan. Saya, Natalie, Zelda, Nanda, dan Bu Vita melakukan perkenalan kemudian mereka juga memperkenalkan diri. Setelah itu, kegiatan kami mulai dengan membuat prakarya. Sesuai keinginan anak-anak, mereka memilih untuk membuat tempat pensil. Dengan bahan dasar kardus dan stik eskrim bekas, mereka sangat antusias membuatnya. Bertanya-tanya cara melakukannya hingga akhirnya semuanya dapat mereka selesaikan dengan panduan dari saya dan yang lainnya. Sebelum usai, ada satu anak yang meminta dibuatkan burung origami kepada saya. Ia masih kecil. Setelah ia dibuatkan, banyak yang lainnya juga minta dibuatkan. Setalah selesai dibereskan, saya dan yang lainnya pun kembali ke BSD dengan bus yang sama bersama-sama tim Penas.
Satu hal yang menjadi pelajaran bagi saya, terkadang banyak hal yang biasa bagi saya. Membuat burung-burungan bukanlah hal yang sulit. Burung-burungan tersebut juga tidak berarti besar. Namun, bagi anak-anak di sana, karya kecil seperti itu sungguh berharga bagi mereka, bahkan diperebutkan.
Bersyukur atas apa yang Tuhan berikan dalam hidup saya menjadi hal yang sangat saya rasakan saat saya datang hingga pulang dari Halim. Selayaknya, saya lebih menghargai akan apa yang telah saya miliki dan mau berbagi akan apa yang saya bisa berikan. Karena saya tidak akan pernah semakin kekurangan ketika saya mau berbagi.
By samuel
Hari Minggu kemarin adalah pengalaman saya pergi ke Sanggar Anak Akar, untuk bermain dan membuat prakarya dengan teman-teman di sana. Saya pergi ke Halim bersama Zelda, Natalie, dan Samuel. Pada saat akan pergi ke sana, kami sempat tertinggal bus yang jam 11.30 WIB karena pada saat itu (mungkin) hujan dan beberapa ada yang telat. Tapi pada kedatangan bus selanjutnya kami semua sudah berkumpul dan langsung pergi ke sana.
Pada sampai di Halim, saya sempat kaget dengan tempat di mana saya dan teman-teman dari halim yang akan bertemu. Itu hanya berupa bangunan, sebenarnya tidak layak juga disebut bangunan yang sebelahnya adalah tempat pembuangan sampah-sampah. Saya sempat mengalami ketakutan saat saya melihat ada kaki seribu merayap di ubin tempat kita berkumpul. Saya sangat takut dengan segala macam yang merayap, entah cacing, ulat, dan sebagainya. Akhirnya hal itu dapat diatasi dan saya bisa tenang kembali dan melanjutkan berinteraksi dengan teman-teman di sana.
Selama hari itu, teman-teman dari halim yang berkumpul katanya tidak sebanyak biasanya. Hari itu memang hujan, sehingga mungkin banyak anak-anak yang enggan datang. Pada saat kami sedang membuat prakarya, ada anak bernama Inul serta teman-temannya yang sedang mengambil sampah-sampah. Ketika kami mengajak ia untuk bergabung, ia menolak. Ia lebih memilih memunguti sampah, yang bila di loakan akan memberikan uang buat dia dari pada duduk dan membuat kotak pensil di tempat kami sedang membuat prakarya. Padahal Inul baru berumur sekitar 7 tahunan. Betapa kasihan.
Dari beberapa teman yang datang pada hari itu, saya agak lebih dekat dengan seorang anak bernama Dyah atau dipanggil oleh teman-teman disitu adalah Dede. Dede sangat bawel, selama proses pembuatan prakarya selalu berbicara. Semua hal dibicarakan oleh Dede. Dia sempat mengeluhkan sebentar lagi Ujian Nasional (Dede kelas 3 SMP) dan dia merasa takutmenghadapi UN tersebut. Dede juga sempat mengutarakan lebih baik ia sekolah di Sanggar Anak Akar daripada sekolah nya sekarang, karena di sekolahnya banyak labrak-melabrak antar angkatan (senioritas). Lagipula di Sanggar Anak Akar juga mengikuti UN kejar paket B kata Dede.
Hari itu saya belajar banyak. Belajar bagaimana mereka bisa hidup dengan segala kesederhaan mereka. Mendengarkan keluhan mereka. Berhasil menahan diri dari phobia insekta. Sadar bahwa hidup saya jauh dari kecukupan dan lebih bersyukur dengan apa yang saya miliki.
Ananda Christie
Tuesday, February 8, 2011
PENDIDIKAN YANG MEMANUSIAKAN
Minggu ini adalah pertama kalinya saya pergi ke Sanggar Anak Akar sebagai anggota JANGKAR. Saya pergi ke Sanggar bersama dengan 6 anggota JANGKAR lainnya dan 2 guru pendamping. Perjalanan kami tempuh dari halte SGU sampai ke daerah UKI menggunakan bus lalu dilanjutkan menggunakan angkot untuk menuju Sanggar. Sampai Sanggar kami dibagi menjadi 2 kelompok, saya pergi ke Halim bersama 3 teman dan 1 guru pendamping, sedangkan ketiga teman saya dan guru pendamping lainnya pergi ke Penas. Perjalanan dari Sanggar ke Halim tidak terlalu jauh, kami hanya perlu berjalan kaki saja. Perasaan saya sebelum pergi ke Sanggar adalah gugup dan takut tidak dapat berbaur dengan anak-anak di sana, takut juga apabila keterampilan yang kami buat tidak menarik. Namun, setelah sampai di Halim dan mulai berinteraksi dengan anak-anak dan teman-teman yang ada di sana, ketakutan saya pun berubah menjadi sebuah perasaan nyaman dan enjoy. Kegiatan kami mulai dengan mengajak teman-teman di Halim bernyanyi, lalu kami lanjutkan dengan kegiatan keterampilan yang telah kami rancang, yaitu membuat kartu valentine untuk teman atau orangtua mereka. Teman-teman di Halim sangat antusias sekali dalam membuat kartu, mereka juga sangat kreatif dalam menghias kartu-kartu tersebut. Bukan itu saja, mereka terlihat sangat bergermbira dalam menjalanin rangkaian kegiatan yang kami rencanakan. Kami juga mengajari mereka membuat keterampilan dari origami dan kami membiarkan mereka mengekspresikan diri mereka melalui keterampilan tersebut. Memang, ada juga yang tidak mebuat kartu karena asik bermain dengan kertas origami. Namun, menurut saya itu bukan masalah karena mereka pun senang dalam melakukannya, yang penting mereka senang dan tidak malu-malu dengan kami. Kami juga mendengar cerita-cerita dari teman-teman di Halim dan kami juga membagikan cerita-cerita kami kepada mereka. Kegiatan pada hari ini berlangsung sangat baik dan membahagiakan. Saya sebagai pribadi pun puas karena dapat membahagiakan teman-teman di Halim serta dapat memberikan waktu saya untuk mereka. Saya belajar untuk berbaur dan belajar untuk sabar ketika berinteraksi dengan teman-teman di sana. Saya senang sekali melihat mereka senang. Untuk itu saya ingin kembali lagi untuk memberikan waktu luang saya untuk bermain-main dan bersenang-senang bersama teman-teman di Halim.
By Olin
Tuesday, February 1, 2011
Minggu ini adalah kali ketiga saya mengunjungi sanggar akar. Berbeda dengan kunjungan sebelumnya, kali ini saya pergi ke halim. Satu pengalaman baru yang tentunya sangat luar biasa dari mulai berangkat dari sanggar. Meski gerimis saya tetap antusias untuk membagi keceriaan dengan adik-anak di halim. Anak-anak di halim lebih teratur dari di penas, mereka pun terlihat sangat menyimak setiap hal yang saya ajarkan dari mulai membuat desain topeng, menggunting kertas hingga memasang karet. Mereka sangat senang belajar hal baru. Walaupun itu hari minggu dan hari hujan tidak sedikit pun rasa terpaksa yang mereka tunjukkan. Kunjungan ini semakin membuat saya termotivasi untuk bisa membagi keceriaan yang ada pada saya untuk orang-orang di sekitar saya. Walau kunjungan terakhir, semoga di lain waktu saya dapat kembali ke sanggar dan membagikan keceriaan yang lebih besar bagi mereka.
By Adriel
Di kesempatan terakhir kali ini untuk saya, saya mendapatkan giliran untuk pergi ke sanggar akar dimana yang berangkat ada 6 anggota KASA dan 3 anggota JANGKAR yang merupakan masa peralihan dan beserta 2 orang guru pendamping. Perjalanan dimulai dari halte pada jam 12 siang dan sampai di sanggar akar kurang lebih jam 1. Tujuan kali ini ada 2 tempat yakni Penas dan Halim, maka kelompok dibagi menjadi 2, 4 orang termasuk saya ditambah guru pergi ke Penas dan 5 orang lainnya pergi ke Halim.
Begitu sampai di Penas, anak-anak tidak langsung datang menghampiri sehingga perlu menunggu terlebih dahulu sampai anak-anak berkumpul. Dengan melihat betapa Lido, Agus, Nanda dengan begitu bersemangat mencari-cari temannya yang lain untuk bertemu dengan kami, saya pribadi semakin merasa senang bahwa anak-anak begitu mengharapkan kehadiran kami di antara mereka meskipun memang banyak yang masih malu-malu dan hanya sebagian yang datang.
Di dalam pertemuan ini anak-anak di ajarkan cara membuat bingkai foto/gambar dari kertas karton dan benang wol. Saat perkenalan, anak-anak di tanyakan mengenai cita-cita mereka. Dengan berbicara mengenai impian mereka, saya juga semakin teringatkan pada kenyataan bahwa mereka punya impian, keinginan yang ingin mereka capai dan itu adalah baik, padahal melihat lagi ke belakang kadang justru saya saat seusia mereka masih tanpa arah dan tidak tahu mau jadi apa. Mereka memiliki impian yang bisa jadi lebih besar dari apa yang saya miliki namun selalu yang menjadi kendala adalah keinginan tidak selalu disertai kesempatan yang baik untuk mereka. Saya merasa bahwa adalah hal yang lebih baik bila kesempatan tersebut semakin terbuka dengan apa yang sudah kita lakukan.
Saya senang bisa berkesempatan untuk lebih mengenal mereka dengan beraktivitas bersama mereka. Memang ada kesulitan-kesulitan seperti pertengkaran-pertengkaran yang seringkali terjadi dan itu menjadi tidak enak bagi saya untuk merasakan ketidakmampuan saya sendiri dalam mengatasinya. Melihat itu saya juga merasa bahwa saya masih perlu banyak belajar mengerti orang lain terutama dalam tujuan bisa menjadi solusi bagi orang lain.
By Edwin
Kemarin minggu adalah saat terakhir aku ke sanggar sbagai anggota KASA. Saat berangkat jujur saya merasakan kesedihan,bahwa hari itu adalah kunjungan terakhir ke sanggar. Namun setibanya di sana, perasaan itu brubah menjadi kesenangan,bukan senang karena yang terakhir tetapi senang karena saya masih bisa ke sana untuk memberikan kebahagiaan yang saya miliki untuk anak2 disana. Hari itu juga adalah yang pertama dan terakhir kalinya saya ke Halim. Bertemu dengan teman-teman baru, saya juga belajar hal yang berbeda dri sebelumnya. Saya sempat bertanya pada Meli, salah satu anak yg tinggal di sana, mengenai cita-citanya. Awalnya ia menjawab saya dengan "mana bisa kak aku punya cita-cita, kan enggak sekolah," ketika saya bertanya lagi untuk kedua kalinya, ia dengan malu-malu menjawab ingin jdi pramugari, tapi ia kembali menekankan bahwa ia tidak bisa jadi pramugari karena tidak sekolah. Hati saya miris mendengarnya. Anak sekecil itu sudah harus mengetahui fakta kehidupan yang kejam,namun ia sebetulnya masih berani untuk bermimpi. Saat saya berbincang-bincang dengan dia, dia berkata bahwa dia sangat senang dengan kedatangan kami kesana. Ia bilang bahwa melakukan kegiatan seperti ini adalah suatu kebahagiaan sendiri baginya. Dari satu anak kecil ini saya belajar bahwa dalam kesederhanaan hidup, kita harus selalu bersyukur dan hidup dalam kegembiraan. Selain itu saya belajar juga untuk kembali berani bermimpi. Terkadang saya takut untuk bermimpi karena takut untuk jatuh. Tetapi saya dikuatkan kembali oleh anak-anak kecil ini. Menurut saya bukan mereka yang mendapatkan pelajaran dari saya. Merekalah yang memberikan saya begitu banyak pelajaran hidup yang berharga.
By Felicia
Hari ini merupakan pertama kalinya saya pergi ke Sanggar Anak Akar. Awalnya, saya merasa sedikit canggung saat berkenalan dengan anak-anak di Penas, namun setelah kegiatan berjalan, saya merasa senang dapat berinteraksi dengan anak-anak.
Saya belajar untuk kegiatan ke berikutnya sebaiknya memperhatikan tingkat kesulitan prakarya agar tidak terlalu sulit bagi anak-anak. Saya juga harus lebih memperhatikan jumlah alat dan bahan yang hendak dibawa agar tidak timbul kejadian rebut-rebutan yang dapat berujung pada perkelahian.
Anak-anak di Penas sangat aktif dan antusias. Namun, di kemudian hari, saya harus belajar lebih kreatif dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan mereka agar mereka tambah antusias lagi dalam menjalani kegiatan. Saya juga harus belajar melerai bila ada perkelahian di antara mereka.
Saya juga mendapat banyak saran dan cerita dari Listia dan Feli. Saya sangat senang karena mereka begitu mensupport kami yang baru pertama kali pergi ke sanggar. Mereka mendukung kami agar tidak malu-malu dan ragu dalam berinteraksi dengan anak-anak.
Saya tidak terlalu terkejut melihat lingkungan tempat mereka tinggal, karena saya pernah bepergian ke tempat-tempat seperti itu sebelumnya, namun yang saya baru pertama kali saksikan kali ini adalah sekelompok ibu-ibu yang memunguti sampah dari sungai. Saya baru tahu kalau ada pekerjaan seperti itu. Saya juga kaget saat menyaksikan bahwa di belakang pos di Penas ada sebuah bangunan yang bagus, entah kantor atau restoran. Betapa mencoloknya perbedaan yang ada di antara bangunan itu dengan bangunan-bangunan yang ada di sekitar pos.
Secara keseluruhan kegiatan hari ini sangat menyenangkan. Saya senang bisa berinteraksi dengan anak-anak di Penas, sampai-sampai tak terasa sudah jam 3 sore. Saya ingin pergi lagi ke sanggar di kesempatan berikutnya. Semoga semangat ini tidak hanya muncul di awal dan meredup, melainkan tetap tumbuh berkembang setiap harinya.
By Claudia
Kunjungan saya ke sanggar pada tanggal 16 Januari 2011 semakin memperkuat pandangan saya mengenai realita yang terdapat di masyarakat kita. Saya yakin bahwa setiap orang memiliki potensi-potensi di dalam diri mereka untuk dapat menjadi orang-orang yang sukses. Hanya saja, kesempatan yang didapat oleh setiap orang berbeda-beda, sehingga terbentuklah kesenjangan-kesenjagan sosial yang terdapat di dalam masyarakat. Hal ini terpancar ketika saya bersama kelompok saya mengajak anak-anak sanggar untuk membuat prakarya berupa bingkai foto dan bando. Meskipun ketika dijelaskan bagaimana cara membuatnya ada anak yang mengeluh karena kurang menyukai prakarya yang akan dibuat, tetapi mereka tetap mau untuk mengerjakannya. Kemudian pada saat saya mendampingi anak-anak dalam proses pengerjaannya, saya melihat bahwa mereka sangat ingin agar mendapatkan hasil karya yang bagus. Mereka tidak enggan untuk bertanya dan meminta bantuan kepada orang lain agar hasil yang diperoleh optimal. Setiap anak menghasilkan hasil karya yang berbeda-beda seusai dengan kreatifitas individu. Meskipun bahan dan peralatan yang tersedia terbatas, mereka mampu memanfaatkannya semaksimal mungkin sehingga karya yang dihasilkan bagus-bagus. Dalam keterbatasan itu pun mereka dapat bekerja sama dengan saling memberi dan meminjamkan alat dan bahan antara satu sama lain, meskipun beberapa anak masih bersikap egois dan perlu diingatkan oleh orang lain agar mau berbagi. Dari sini saya dapat menyimpulkan bahwa sebenarnya mereka memiliki potensi yang besar. Hanya saja dalam kondisi mereka saat ini, potensi tersebut tidak dapat digali lebih dalam lagi dan dikembangkan secara maksimal. Hak-hak pendidikan mereka kurang dapat terpenuhi karena kurangnya fasilitas, dukungan, dana, dan lain-lain. Selain itu, hidup dalam lingkungan dan masyarakat yang sedemikian rupa juga berdampak pada berkurangnya hak-hak mereka yang dapat terpenuhi. Hal-hal tersebutlah yang kemudian dapat menghambat perkembangan diri mereka. Apabila mereka diberi kesempatan yang lebih baik, saya yakin mereka akan berkembang menjadi anak-anak yang dapat bermanfaat bagi masyarakat dan membanggakan bangsa dan negara.
By Andreas
Hari ini adalah pertama kalinya saya datang ke Sanggar Akar. Pertama- tama saya sangat nervous dan juga penasaran tentang anak- anak dan juga keadaan lingkungannya. Namun diluar dugaan mereka semua sangat baik dan sangat aktif. Saya mendapat kesempatan untuk pergi ke Halim.
Sebenarnya saya sejak kecil sering sekali melewati kawasan tersebut, namun belum pernah masuk hingga ke pemukiman warga. Sebelumnya saya berfikir bahwa kawasan yang akan dikunjungi akan dipenuhi sampah. Walaupun becek namun keadaan disana bersih dan warga juga sangat mendukung acara kami ini. Setiap kami melewati satu rumah ke rumah lain, kami selalu disapa maupun menyapa. Saya juga melihat bahwa mereka begitu senangnya untuk membuat barang- barang yang sesungguhnya berasal dari barang bekas. Walau untuk pertama- tama malu, lama kelamaan mereka mulai mendekati kakak dari kasa dan jangkar untuk bertanya.
Kegiatan ini sungguh membangkitkan rasa peduli saya dengan anak- anak disekitar yang membutuhkan kami untuk membantu mereka lebih kreatif sekaligus menjadi teman yang baik.
By Nadia
Efek obat antibiotik
Saya masih mempunyai anak-anak kecil yang masih sering sakit dan dokter suka banget memberikan antibiotik pada anak saya. Karena saya orang awan saya percaya begitu saja. Namun info ini hendaknya menjadi perhatian orangt tua bahwa ada Efek Samping Mengejutkan dari Antibiotik Merry Wahyuningsih - detikHealth[Image]
(Foto: thinkstock) Jakarta, Antibiotik telah banyak digunakan untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Tapi ada beberapa efek samping antibiotik yang mengejutkan dan belum banyak diketahui orang. Apa saja?
Antibiotik merupakan senyawa atau kelompok obat yang dapat mencegah perkembangbiakan berbagai bakteri dan mikroorganisme berbahaya dalam tubuh. Selain itu, antibiotik juga digunakan untuk menyembuhkan penyakit menular yang disebabkan oleh protozoa dan jamur.
Tapi belum banyak orang yang tahu bahwa antibiotik juga dapat menyebabkan efek samping yang cukup membahayakan. Dilansir dari Ehow, Jumat (17/9/2010), berikut beberapa efek samping antibiotik:
1. Gangguan pencernaan
Salah satu efek samping antibiotik yang paling umum adalah masalah pencernaan, seperti diare, mual, kram, kembung dan nyeri.
2. Gangguan fungsi jantung dan tubuh lainnya
Beberapa orang yang mengonsumsi antibiotik mengalami jantung berdebar-debar, detak jantung abnormal, sakit kepala parah, masalah hati seperti penyakit kuning, masalah ginjal seperti air kecing berwarna gelap dan batu ginjal dan masalah saraf seperti kesemutan di tangan dan kaki.
3. Infeksi
Efek samping yang paling rentan dirasakan perempuan adalah infeksi jamur pada organ reproduksi yang dapat menyebabkan keputihan, gatal dan vagina mengeluarkan bau serta cairan.
4. Alergi
Orang yang mengonsumsi antibiotik juga sering mengalami alergi, bahkan hingga bertahun-tahun. Alergi yang sering terjadi adalah gatal-gatal dan pembengkakan di mulut atau tenggorokan.
5. Resistensi (kebal)
Orang yang keseringan minum antibiotik bisa mengalami resistensi atau tidak mempan lagi dengan antibiotik. Ketika seseorang resisten terhadap antibiotik, ada beberapa penyakit dan infeksi yang tidak dapat lagi diobati, sehingga memerlukan antibiotik dengan dosis lebih tinggi. Semakin tinggi dosis maka akan semakin menimbulkan efek samping yang serius dan mengancam jiwa.
6. Gangguan serius dan mengancam nyawa
Penggunaan antibiotik dosis tinggi dan dalam jangka lama dapat menimbulkan efek sampaing yang sangat serius, seperti disfungsi atau kerusakan hati, tremor (gerakan tubuh yang tidak terkontrol), penurunan sel darah putih, kerusakan otak, kerusakan ginjal, tendon pecah, koma, aritmia jantung (gangguan irama jantung) dan bahkan kematian. Sumber ; http://health.detik.com/read/2010/09/17/075559/1442128/763/efek-samping-mengejutkan-dari-antibiotik?993306755
Thursday, October 14, 2010
kepedulianku
Minggu, 10 Oktober 2010
“ Kak, tolong potongin Saya gambar bintang in
Oleh Cyndu XII IPA3 / 12
Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari Minggu 10 Oktober 2010, hari yang cukup berbeda karena kepercayaan tanggalan 10.10.10, bagi Saya memang berkesan walaupun sebenarnya semua hari adalah hari pemberian Tuhan yang istimewa. Tetapi terlepas dari kepercayaan, hari itu memang benar istimewa untuk Saya. Mengapa? Karena sekali lagi Saya diperbolehkan mendapat pengalaman yang baru melalui kunjungan penerapan ilmu dari pendidikan Kaderisasi telah Saya terima.
‘ Sanggar Anak Akar ’, ya, benar Sanggar Anak Akar. Ini memang merupakan kunjungan saya yang sudah keempat kalinya, tetapi Saya memiliki kepercayaan yang masih Saya pegang hingga sekarang, yaitu pengalaman baru. Itu benar, setiap kali Saya berkunjung selalu Saya mendapat pengalaman baru yang unik dan tidak terlupakan.
Berawal dari siang hari dengan cuaca yang tidak seperti biasanya, matahari bersinar dengan teriknya namun tetap hangat. Mulai dari perjalanan sebelum sampai di Sanggar Anak Akar saja, Saya sudah mendapat pengalaman baru, melihat ‘kernek’ bus yang tidak jujur dan menimbulkan pertengkaran di dalam bus, melalui ini Saya semakin diingatkan betapa manusia bisa menjadi seperti singa ketika dirinya dipermasalahkan dengan hal yang berhubungan dengan uang. Mungkin memang seorang ‘kernek’ itu yang tidak jujur dalam mengembalikan uang penumpang, atau bahkan itu adalah kesalahan seorang penumpang yang tidak mau sabar menunggu kembalian dan terlalu awal menutup diri untuk mendengarkan alasan yang diberikan seorang ‘kernek’ bus itu. Ah sudahlah, kejadian seperti itu sudah sering didengar, namun baru pertama kali Saya melihatnya secara live ( langsung di tempat kejadiannya ).
Itu baru awal, pembukaan dari hari Saya yang penuh pengalaman baru. Ketika melalui jembatan sungai menuju Sanggar Anak Akar, Saya dengar minggu lalu tepat itu banjir dengan ketinggian hingga menenggelamkan jembatan itu, tidak pernah Saya bayangkan sebelumnya bagaimana kondisi tempat itu minggu lalu, karena Saya belum pernah mengalami kebanjiran sebelumnya. Mulai dari perjalanan itu Saya berdoa dan berterima kasih kepada Tuhan karena selama ini Saya sudah dilindungi dan tidak mengalami bencana banjir seperti yang dialami teman – teman Saya di Sanggar Anak Akar.
Mulai sampai di Sanggar Anak Akar, kebetulan teman – teman sedang berlatih perkusi, Saya sungguh mengagungi talenta teman – teman Saya di bidang musik, karena mereka memiliki bakat yang dalam di bidang itu dan mereka memainkan musik dengan irama yang menurut Saya sungguh bagus. Setelah itu berangkatlah Saya bersama dengan teman – teman Saya menuju Penas untuk bermain dan belajar bersama dengan teman – teman kecil Saya di sana.
Di Penas
Sesampainya kami di Penas, anak – anak mulai berkumpul bersama, kebanyakan adalah anak – anak laki – laki. Setelah cukup ramai, maka langsung saja Saya memulai kegiatan pada siang hari itu. Kebanyakan dari anak – anak itu sudah mengenal Saya dan Saya-pun juga tidak asing dengan beberapa wajah karena ini adalah kunjungan Saya yang keempat kalinya. Mereka masih nakal tetapi sudah jauh lebih baik dari setiap kunjungan yang pernah Saya alami sebelumnya.
Setelah berbincang – bincang sejenak dan menertibkan anak – anak, langsung saja kami memulai kegiatan kami pada hari itu. Kegiatan pada hari itu adalah membuat vas bunga untuk anak laki – laki dan untuk anak perempuan membuat bunga dari anyaman pita Jepang. Kami memutuskan untuk membagi tugas mendampingi anak – anak hanya memberitahu cara – caranya saja dan mereka yang mengerjakan.
Beberapa saat kemudian, Nampak dari wajah anak – anak yang bingung bagaimana cara menghias dan membuat karya mereka supaya menjadi bagus, karena sesudah mereka berkarya, kami menjanjikan hadiah menarik bagi yang membuat vas atau bungan terbaik. Mereka benar – benar berusaha untuk membuat yang terbaik, semua itu Nampak dari kesungguhan wajah mereka, hal ini jauh berbeda dari kunjungan Saya yang pertama kali, di mana mereka sulit untuk diatur, tidak mau bekerjasama, dan tidak antusias mengikuti kegiatan walaupun pada waktu itu juga diterapkan system hadiah bagi anak yang membuat karya terbaik. Ketika mereka menghias vas bunga dan membuat anyaman bunga, mereka mulai banyak menyuruh kami membantu mereka, awalnya kami tidak mau karena mereka hanya mau cepat jadi dan menyuruh kami membuat materialnya dan mereka hanya tinggal menempel hiasan – hiasan itu, tetapi kami ingin mengajari mereka bagaimana cara agar bisa kami bantu. Pertama – tama kami hanya memancing dengan kata – kata “ Kalau mau dipotongi hiasannya bagaimana cara berbicaranya ? ”, mereka seringkali menjawab “ Potongin dong! ”, “Kak, cepat potongi ! ”, “Oi Kak, aku gak bisa potong nih, susah, potongin dong ! ”, mereka berbicara seperti itu Saya sudah mengerti maksudnya, tetapi mengapa tidak disertai kata “ tolong ”, akhirnya Saya memancing mereka dengan berpura – pura mencueki mereka dan beberapa saat kemudia muncul kalimat “ Kak, tolong potongin Saya gambar bintang ini dong ”, dari kalimat tersebut maka Saya segera membantu anak itu, anak itu bernama Rama dan ketika Saya membantu, teman – teman lain yang mendengar itu segera meminta dengan kata “ tolong ”, Saya sungguh puas karena merasa berhasil membuat teman – teman kecil Saya di Penas memahami seberapa pentingnya dan bagaimana cara meminta bantuan dengan baik.
Setelah kegiatan, kami bersama – sama berkumpul dan Pak Alex memilih sang juaranya, karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah empat sore, maka segera kami kembali ke rumah kami masing – masing.
Menghargai orang asing
By FELI
Berdasarkan kunjungan kemarin,secara pribadi saya belajar mengenai beberapa hal. Dari anak-anak yang berada di sanggar anak akar saya belajar untuk kembali menaikkan kembali semangat saya untuk belajar dan berkarya. Selama ini saya banyak mengeluh dan menganggap hidup saya sangat berat. Sehingga terkadang saya tidak melakukan tugas2 saya dengan maksimal. Tetapi melalui kunjungan saya kemarin ke sanggar, saya disadarkan bahwa hidup saya bukanlah yang terberat. Saya harus terus berusaha dan berjuang demi masa depan saya nanti. Maka itu saya mau lagi memperbaharui semangat saya untuk belajar demi mendapatkan masa depan yang cerah dan untuk meraih cita-cita dan impian yang saya miliki. Dari anak-anak di penas saya belajar untuk menghargai setiap orang yang hadir di hidup saya. Orang asing sekalipun. Mereka sangat menghargai kedatangan kami ke tempat mereka dan dengan antusias mengikuti kegiatan yang kami buat. Mereka juga mau mengeluarkan potensi mereka dan kesenangan mereka dengan optimal (khususnya para anak perempuan) sedangkan apabila kami berada di sekolah, terkadang saya pribadi sering mengabaikan dan menganggap remeh kegiatan yang dilakukan. Maka dari itu lewat kunjungan yang kami lakukan kemarin saya menyadari bahwa selama ini saya tidak melaksanakan tugas dan peranan saya sebagai pelajar dengan baik. Saya akan terus berusaha untuk melaksanakan peranan saya sebagai pelajar dengan lebih baik dan mengkontribusikannya kepada masyarakat dan lingkungan sekitar saya.
Pantang menyerah
By Laurensius Sitanggang
Pada hari Minggu,10 Oktober 2010 kemarin, saya dan teman-teman beserta Pak Alex pergi ke sanggar anak akar untuk mengajarkan anak-anak di sana membuat bunga dari pita plastik dan pot bunga dari botol minuman kemasan bekas. Kami membagi anak-anak tersebut berdasarkan laki-laki dan perempuan, anak laki-laki membuat pot bunga dan anak perempuan membuat bunganya. Di sana saya mengajarkan seorang anak laki-laki bernama Samuel.
Samuel sangat serius dan antusias membuat pot bunga, terutama saat menghiasnya dengan kertas warna dan pita. Samuel sangat terbuka karena selalu berani untuk bertanya kepada saya jika ia kurang paham dan meminta bantuan jika ia kesulitan dalam suatu hal. Siakp terbuka itu membuat saya kagum karena dengan begitu ia bisa semakin paham dan bisa melakukannya. Ia juga tidak malu ketika sedang meminta bantuan. Karena saat meminta bantuan, temannya meledek Samuel karena belum bisa melakukannya sendiri. Tetapi saya yakin dan percaya jika ia terus berusaha dan berlatih pasti ia akan bisa melakukannya dengan baik.
Lalu Samuel juga pantang menyerah, karena saat semua anak laki-laki selesai membuat pot bunga, kami memberikan hadiah berupa handuk bagi siapa yang membuat pot bunga paling bagus. Samuel terus berusaha membujuk Pak Alex, yang menjadi juri, dengan tujuan agar ia menjadi pemenang dengan cara menunjukkan hasil karyanya. Ia terus berlomba dengan teman-temannya yang lain untuk mendapatkan hadiah tersebut. Walaupun akhirnya Samuel tidak menang, ia tetap bangga terhadap hasil kerjanya. Sikap terbuka dan pantang menyerah Samuel membuat saya kagum, dan saya merasa perlu untuk mengembangkan sikap-sikap itu di dalam diri saya.
Si Upin yang Mandiri
By. Adriel
Ini ada kali kedua saya mengunjungi sanggar akar, berbeda dengan kunjungan sebelumnya saat ini saya pergi dengan beberapa teman yang berbeda. Namun itu membuat saya semakin antusias pergi kesana. Mula-mula saya berniat untuk mengunjungi teman-teman yang ada di kampung melayu. Tetapi mendapat kabar kalau disana sedang di landa banjir maka kami memutuskan pergi ke rumah panggung. Disana setelah berkenalan dengan adik-adik yang sebagian sudah saya kenal, kami mulai melakukan aktifitas yang telah dipersiapkan sebelumnya yaitu membuat pot bunga dan hiasan bunga. Dengan menggunakan botol kaleng bekas, semua anak antusias untuk membuat pot mereka menjadi yang terbaik. Ada yang menempeli dengan nama mereka, ada pula dengan nama tokoh idola mereka seperti Upin dan Ipin. Saya sangat senang melihat antusiasme mereka, belum lagi ada satu hal yang mengejutkan saya yaitu ketika ada Kadal besar yang di tangkap oleh salah seorang teman kecil saya. Jujur saya sangat geli dengan hewan sejenis kadal, maka saya lari menjauh namun ia tetap asyik memainkan kadal itu walau akhirnya di lempar. hehehe sangat seru sekali! Puncaknya adalah ketika Pak Alex mau memnentukan siapa yang pot nya paling bagus, disana terliat anak laki-laki saling bergumul menunjukan karyanya, semuanya bagus sehingga Pak Alex cukup sulit menentukan. Akhirnya setelah di lihat dari nilai kerja keras dan kemadirian di dapat seoarng pemenang. Yang saya ingat dia adalah si "Upin", karena saya ikut membantu dia menggunting nama tersebut. hehehe..
terimakasih Kak untuk pengalaman yang selalu berharga di setiap kali saya berkunjung kesana. Semoga dapat berjumpa di pertemuan berikutnya. Keep moving forward yah ! salam buat anak-anak sanggar anak akar.
Tuesday, July 20, 2010
Pendidikan Nilai
Siapa mau Jadi guru?
Tuntutan masyarakat dan tugas menyiapkan masa depan bangsa merupakan tugas yang harus disadari oleh guru. Pedidikan menjadi sentra pembentukan manusia utuh yang mengintegrasikan antara kemampuan 1. otak, melalui pengetahuan (Hard Skills) dan Values hidup (Soft Skills). 2. Hari, melalui oleh budi, kepekaan, kepedulian dan keberpihakan kepada kebenaran dan keadilan. 3. Kaki-tangan, melalaui keterampilan, karya yang dihasilkan untuk orang lain. Agar guru dapat memberi maka Ia terlebih dahulu memiliki keutuhan tersebut. Otak yang cemerlang, Hati yang bersih serta kaki tangan yang lincah dan kuat. Untuk itu perlu kiranya guru dibekali banyak macam dan jenis kegiatan/pelatihan untuk menumbuhkan keutuhan tersebut.
Pelatihan-pelatihan bagi guru tidak hanya terbatas pada hard skills saja. Yang lebih penting adalah bagaimana mengembangkan dan menumbuhkan soft skills para guru,melalui pendidikan nilai. Pendidikan nilai mestinya menjadi core value-nya sekolah-sekolah di Indonesia. Sebetulnya pendidikan nilai menjadi tanggungjawab seluruh guru.
Sekarang ini tidak gampang menjadi seorang pendidikan, menjadi pengajar cukup berbekal ilmu dan keterampilan tetapi menjadi pendidikan yang betul tidak cukup dengan itu saja. Kalau ditanya kepada siswa, adakah dari mereka yang kelak mau menjadi guru? Hampir dipastikan tidak ada yang mau, kalau ada, itupun ragu.. Mengapa? Bukankan tugas ini mulia? Di Jaman Neokapitalis sekarang ini, menjadi guru adalah kesalahan, pilihan terakhir. Mengapa? Karena uang/modal menjadi orientasi sentral masyarakat kebanyakan. Sementara itu guru, menjadikan uang pada urutan terakhir. Uang penting untuk hidup tetapi bukan alat untuk hidup. Siapa mau jadi guru?