Thursday, June 17, 2010

Siswa SMA santa Ursula BSD peka terhadap orang miskin

Siswa SMA dan Anak Penas

Selama delapan bulan beberapa siswa SMA secara reguler setiap minggu pergi ke Penas kalimalang bekerjasama dengan sekolah tanpa batas Sanggar Akar Anak. Peran mereka terutama adalah meningkatkan kepekaan, kepedulian, dan berbagi pada anak-anak yang tidak seberutung mereka. Harapan kedepan adalah mereka (siswa) memiliki keberpihakan pada orang kecil, miskin dan terkucilkan. Simak hasil refleksi mereka.

Kumpulan Refleksi

KASA ( Kader Sanur )


Jesica Tifany


sanggar anak akar seru!

Pesan : anak-anaknya harus diajak lebih terlibat lagi :)

Kritik/saran : program ini sudah bagus, hanya saja seringkali anak baru dikasih kabar hari Sabtunya jika akan pergi di hari minggu, jadi banyak kurang persiapan

LYVIA


Waktu itu ke sana waktu lagi ada bazaar. Bazaar itu udah mulai dari pagi, tapi kami telat taunya, jadi kami telat dateng, sekitar jam duabelas baru sampai. Tapi bazaarnya masih berlangsung. Disana kami keliling sanggar, melihat ruangan-ruangan apa saja yang ada. Dikasih tau juga kalau di sanggar sudah ada sekolah sendiri dan masing-masing sudah ada penanggungjawabnya. Diceritain tiap hari pelajarannya seperti apa.
Lalu kami ikut dalam aktifitas di bazaar itu. Ada booth membuat topeng daur ulang yang dibuat dari kertas koran yang ditempel, lalu di cat dan dikeringkan. Juga mencoba mencetak kertas daur ulang.
Anak-anak di sanggar ramah. Mereka mau main bareng, ngobrol, dan nggak malu-malu. Kami mengobrol dengan beberapa anak disana.
Kebetulan hari itu juga ada kelompok sepeda dari alumni cannisius. Mereka membuat acara makan bersama di sanggar. Selesai makan, ada acara sharing.

Acara ke sanggar sangat menarik. Melihat bahwa anak-anak sanggar juga semangat. Kita bisa bertukar pikiran, pengalaman, dan ide ; sama-sama saling belajar.

Della Nadya

Di sana main beberapa games yg menguji kerjasama kelompok dan konsentrasi.
Trus, buat tempat pensil dari lintingan kertas walaupun belum selesai.
Selain itu jg pernah buat lampu hias sederhana.

Kesan : anak – anak sanggar akar sangat inspiratif. Tiap kali ke sanggar, Saya selalu bisa belajar lagi, terutama belajar untuk lebih menghargai apa yg Saya miliki.

Saran : kadang - kadang boleh juga kalo kita dengerin request dari anak2 sanggar akar tentang apa yang lagi jadi interest mereka buat dipelajari. Supaya, tidak semua ide dari kita2 aja, tetapi mereka juga bisa berkreasi.

Dio Dwianto


Selama periode tahun ajaran kali ini, saya telah dua kali pergi ke sanggar anak akar. Disana saya bertemu dan berinteraksi dengan masyarakat golongan bawah, dimana kehidupan disana lebih keras dan susah daripada kehidupan saya sehari-hari. Saya berbincang-bincang dengan masyarakat disana terutama anak-anak kecil. Program yang diberikan oleh pihak sekolah sendiri mengharuskan kami yang berangkat untuk menyiapkan permainan kecil-kecilan dan juga prakarya yang mudah namun berguna untuk diajarkan kepada anak-anak kecil disana. Anak-anak yang terlibat dalam kegiatan itu rata-rata berusia dibawah 10 tahun. Terkadang, ada beberapa anak remaja yang ikut, dan kadang pula beberapa orang tua dari anak-anak kecil itu ikut melihat kegiatan yang kami lakukan. Pada dasarnya, tujuan kami pergi kesana adalah untuk melatih kepekaan, belajar berinteraksi dengan berbagai golongan masyarakat, dan juga berbagi sedikit informasi dan kesenangan dengan mereka. Kami yang berangkat harus benar-benar mempersiapkan segala sesuatunya agar anak-anak kecil disana tidak merasa bosan dengan kegiatan yang kami berikan, terlebih agar mereka juga mendapatkan hal yang berguna dari setiap kunjungan kami kesana. Menilik dari latar belakang kehidupan mereka, tak dapat dipungkiri pula terdapat nilai-nilai hidup yang berbeda dengan yang biasa saya pelajari. Maka, butuh kesabaran untuk “menertibkan” anak-anak agar kegiatan dapat berjalan dengan lancar. Setiap kali kami datang kesana, saya mendapatkan kesan bahwa orang-orangtua disana cukup kooperatif dengan mendorong anak-anak mereka untuk ikut dalam kegiatan kami. Mereka juga ramah dan menerima kedatangan kami dengan tangan terbuka. Untuk anak-anak remaja, mereka agak kurang tertarik dengan kegiatan yang kami berikan, terutama remaja laki-laki. Mungkin dikarenakan kegiatan yang kami lakukan memang lebih ditujukan untuk menarik perhatian anak-anak kecil. Untuk remaja perempuan, kegiatan kami masih cukup menarik karena ada prakarya yang kami ajarkan setiap datang kesana dan tentu saja anak-anak perempuan lebih tertarik dengan hal-hal seperti itu. Meski terkadang anak-anak disana terlihat kurang antusias dengan program yang kami berikan, tetapi secara keseluruhan saya rasa mereka cukup senang dapat berinteraksi dengan kami, karena pada dasarnya anak-anak kecil lebih mudah berteman dan mereka senang memiliki teman-teman baru, yaitu kami. Usia kami yang cukup terpaut jauh juga tidak terlalu dipermasalahkan oleh mereka. Memang, pada awalnya agak sulit untuk membuat mereka mau membuka diri dengan saya. Ada rasa segan yang membuat mereka agak menjaga jarak, namun melihat hal itu saya berusaha untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu, dan lama-kelamaan mereka mulai berani untuk berbicara juga. Satu hal yang berkesan bagi saya adalah ketika ada seorang anak yang mengatakan kepada saya, agar terus datang kesana pada minggu-minggu berikutnya. Itu membuat saya terharu, dan menyadari bahwa ternyata ada yang menganggap kehadiran saya yang “cuma begitu saja” dihargai dan dapat meninggalkan kesan bagi anak itu. Terus terang saya juga mendapat hal-hal baru dari perjalanan kesana, terlebih dalam melatih kemampuan berkomunikasi saya. Satu hal yang saya cermati adalah belum berhasilnya saya untuk dapat berinteraksi dengan anak-anak usia remaja. Mungkin selanjutnya dapat ditemukan kegiatan bersama yang juga dapat dinikmati oleh anak-anak besar.


Kezia Saraswati


Selama di Sanggar Anak Akar, saya disana mengajarkan anak-anak untuk membuat produk-produk keterampilan daur ulang dari bahan yang kita umum jumpai sehari-hari, seperti kain perca atau kertas koran. Disana saya juga bermain dengan anak-anak kecil dan melakukan sosialisasi dengan warga sekitar. Saya berbincang dengan anak-anak yang menghadiri sanggar, dan dari sana pengetahuan saya pun bertambah. Pada perjalanan menuju sanggar, saya juga menjadi melihat pemukiman warga kelas menengah ke bawah, dan alam di sekitar mereka. Hal ini menjadi perbincangan antara para anggota KASA dan Pembina yang menyertai kami.

Saya merasa terkesan dengan cara hidup warga-warga disana. Mereka memang kekurangan, namun mereka tetap menjalani hiidup mereka dengan senyum. Saya juga merasa terkesan dengan anak-anak yang belajar di sanggar, mereka memiliki semangat untuk belajar yang tinggi sekali meskipun dengan sarana yang terbatas, sehingga saya merasa bersalah telah menyia-nyiakan semua fasilitas yang saya miliki.

Satu hal yang masih saya rasa kurang adalah jadwal berkunjung ke Sanggar dari kita sendiri, karena sering tiba-tiba ada kekosongan jadwal sehingga membuat bingung para anggota. Sarannya adalah perbanyak gunakan kertas daur ulang yang dapat dijangkau masyarakat kecil juga, sehingga mereka dapat mempraktekkan pengetahuan-pengetahuan daur ulang tersebut sendiri. Terimakasih J

Refleksi dan Evaluasi Kegiatan Kaderisasi

Ariadne Dyah Paramitha

Kegiatan yang dilakukan di sana adalah :

Saat pertama kali ke sana ada acara bazaar, jadi kami melihat-lihat serta diajak berkeliling melihat tempat – tempat serta ruangan-ruangan di mana mereka melakukan banyak kegiatan seperti belajar dan melakukan keterampilan lain. Setelah itu kami ikut berkumpul dan mendengar cerita-cerita dari anak-anak Sanggar Akar tersebut.

Kali kedua kami langsung ke Penas. Di sana kami mengajarkan cara membuat boneka dari kaos kaki. Melakukan beberapa permainan di lapangan, bernyanyi bersama, serta bercerita. Anak-anak yang hadir saat itu menurut saya cukup antusias. Mereka mau mendengarkan dan melakukan kegiatan-kegiatan yang kita buat dengan baik.

Kesan :

Yang pertama kali saya rasakan senang karena dapat berbagi dengan anak-anak dari Sanggar Akar. Saya merasa walaupun kegiatan yang kami telah lakukan bukan kegiatan yang luar biasa namun ternyata dampaknya cukup besar bagi mereka. Saya berharap kegiatan ini dapat membawa dampak positif bagi diri saya pribadi dan anak – anak di sana.

Saran dan Pesan untuk Program Kita:

Selain kita mengajarkan cara membuat suatu keterampilan, kita juga bisa mengajarkan pelajaran sekolah yang mendasar, seperti matematika dasar, dan lain-lain. Selain dapat membantu mereka dan apa yang mereka dapat juga semakin banyak , kita juga dapat berinteraksi dengan mereka lebih lama.

Agnes


Refleksi Sanggar Anak Akar

Setelah satu kali saya menjadi semakin terbuka wawasannya tentang kemiskinan. Melalui kegiatan dan program ini, saya jadi bisa melihat kemiskinan secara nyata dan bukan hanya melihat teori ataupun berita dari media massa. Karena itu saya berpikir bahwa kegiatan atau program ke sanggar anak akar ini bagus sekali. Perlu untuk dipertahankan dan dilanjutkan. Sebab secara pribadi, melalui program ini saya tidak hanya belajar tentang realita kemiskinan tetapi juga belajar bagaimana caranya berinteraksi dengan masyarakat kaum menengah ke bawah dan juga interaksi kepada anak-anak. Selain itu saya juga belajar untuk semakin mandiri dan tidak tergantung dengan kendaraan pribadi karena untuk bisa ke sanggar anak akar kita harus menaiki kendaraan umum.

Saya baru satu kali pergi ke sanggar anak akar. Oleh karena itu belum banyak yang bisa saya lakukan disana. Yang pernah saya lakukan disana adalah mengajari anak-anak yang ada disana untuk membuat ikat rambut dan bros dari kain perca.

Sarannya untuk kegiatan yang akan kita lakukan di sanggar anak akar, jangan melibatkan benda-benda tajam seperti gunting dan jarum. Karena melalui pengalaman mengajarkan anak-anak membuat bros dan ikat rambut tersebut kami menggunakan gunting dan jarum yang cukup berbahaya apabila digunakan oleh anak-anak.

Laurensius Sitanggang ( Olan )


Selama kurang lebih setengah tahun ini, saya sudah pergi ke Sanggar Anak Akar sebanyak 2 kali. Pada waktu pergi untuk pertama kalinya, saya dan teman-teman yang lain membuat bingkai foto dari kardus bekas dan koran bekas serta gantungan kunci dari kain flanel bekas. Pada waktu itu anak laki-laki membuat bingkai foto, sementara anak perempuan membuat gantungan kunci.

Lalu pada waktu saya pergi untuk kedua kalinya, saya dan teman-teman yang lain tidak mengajarkan mereka membuat sesuatu seperti pada waktu pertama kali pergi, melainkan mengajak mereka bermain bersama. Permainannya antara lain adalah menebak nama teman, permainan melanjutkan kata, dan permainan ular naga panjang.

Selama 2 kali pergi tersebut, anak-anak Sanggar Anak Akar sangat antusias menunggu kedatangan kami. Mereka semangat sekali untuk membuat prakarya yang akan kami ajarkan pda mereka.

Kesan saya setelah pergi ke sana adalah ternyata mereka semangat sekali untuk mempelajari sesuatu yang baru. Mereka juga tidak malu-malu untuk berinteraksi dengan saya dan teman-teman yang lain. Saya terkesan dan senang dengan sikap mereka.

Untuk setengah tahun ke depan, harapan saya adalah semoga rasa antusias mereka tidak berkurang, dan semakin meningkat. Terima kasih.

Cyndu


Selama setengah tahun setelah Saya mendapat pendidikan kaderisasi ini, Saya sudah 4x berkunjung untuk berkunjung ke Sanggar Akar. Sejauh ini Saya memandang kunjungan ini bukan sebagai suatu yang hanya sebagai kewajiban atau mengisi waktu luang saja, tetapi Saya memandang tentang kunjungan ini adalah bagaiman Saya berdialog dengan diri Saya sendiri mengenai hubungan antara pendidikan kaderisasi yang diberikan dengan kunjungan ke Sanggar Akar ini. Sejauh ini Saya menjalani kunjungan ini dengan senang hati, karena kunjungan ini adalah media untuk Saya menerapkan pendidikan yang telah Saya terima selama 3 hari di Kaderisasi.

Saya tidak diminta untuk merubah nasib mereka, Saya tidak diminta untuk menyelamatkan mereka dari kemiskinan dan bahkan Saya tidak diminta untuk menyumbang bagi mereka yang kekurangan tersebut, tetapi melalui kunjungan – kunjungan yang telah Saya lakukan ini membuat Saya tidak akan pernah lupa seumur hidup Saya tentang mereka. Karena mereka menanamkan kesan di hati Saya yang mendalam, dan kelas jika suatu saat nanti Saya sudah menjadi seorang pemimpin yang sesungguhnya, maka Saya sudah mengetahui apa yang harus Saya perbuat di antara orang – orang yang berkekurangan.

Kesan

· Kesan untuk anak – anak kecil : Mereka memang sedikit susah diatur, Saya sadari dan maklumi itu karena pendidikan mereka yang kurang, terkadang mereka suka meminta barang yang kami bawa. Memang terkadang juga mereka sulit diatur, tetapi melihat mereka ketika bermain dan belajar bersama merupakan kesan terdalam bagi Saya.

· Kesan untuk para remaja : Para remaja di sana memang cenderung sedikit menutup diri, tetapi setelah Saya sapa, kami cepat akrab karena mereka semua ramah. Ketika mereka memainkan alat musik adalah kesan terdalam bagi Saya, sangat senang sekali Saya dapat melihat mereka sekreatif dan seterampil itu.

· Kesan untuk para orang tua : Mereka semua sangat ramah, ketika dalam perjalanan menuju tempat untuk mengajar, Saya berpapasan dengan banyak orang – orang tua lanjut usia, ketika meleati mereka dan Saya sapa, mereka membalas sapaan dengan sangat ramah.

Anna Felicia Riawan (Feli)

Selama hampir satu tahun ini saya mengunjungi sanggar anak akar dan penas sebanyak 2 kali. disana saya mengajak anak2 bermain dan juga membuat keterampilan. meskipun pertama-tama ada sedikit situasi yang cukup canggung di antara anak-anak KASA yang datang dan anak-anak yang hadir tetapi perlahan-lahan situasi menjadi lebih baik. kesan saya pertama kali pada saat saya datang ke sana adalah, saya sangat beruntung, bisa hidup di daerah yang nyaman, bersih, sehat dan juga bisa hidup dengan sejahtera dengan segala fasilitas yang ada di sekitar saya. kemudian perasaan kagum tumbuh dari hati saya karena anak-anak itu bisa hidup dengan gembira dan bersemangat meskipun dalam kondisi yang memprihatinkan seperti itu.

Saran saya untuk program kita ke depan adalah mungkin lebih ke pelaksanaan teknisnya. Setiap anggota yang maw berangkat diharapkan sudah mempersiapkan diri dari jauh2 hari misalnya awal minggu dan juga berkoordinasi dengan kelompok sebelumnya sehingga apabila ada yg perlu disampaikan pada anak-anak untuk kegiatan di minggu esoknya, dapat disampaikan oleh kelompok yang berangkat pada saat itu.

Sekiranya itu refleksi dari saya atas kegiatan ini.

LANJUTKAN!

Pristella

Saya sudah mengunjungi Sanggar Anak Akar sebanyak dua kali, kegiatan yang saya lakukan adalah mengajari anak-anak sanggar membuat ikatan rambut atau bros menggunakan kain sisa pada kunjungan yang pertama dan membantu menjelaskan kepada mereka cara membuat kompos menggunakan sampah-sampah organik pada kunjungan yang kedua.

Awalnya saya merasa bahwa kunjungan sosial seperti itu biasa saja, tetapi setelah saya mengalaminya sendiri, paradigma saya tentang kunjungan sosial yang biasa saja itu berubah. Kunjungan saya ke Sanggar Akar menjadi bermakna, saya melihat sendiri bahwa mereka yang kurang beruntung memiliki semangat dan daya juang yang tinggi, memiliki minat, berperan secara aktif, dan mau untuk memberikan diri sepenuhnya kepada setiap kegiatan yang diadakan. Hal ini membuat saya berefleksi terhadap diri saya sendiri yang terkadang cenderung menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk belajar dan memberikan diri sepenuhnya terhadap apa yang sedang saya lakukan atau terhadap apa yang orang lain berikan kepada saya.

Melihat banyak sisi positif yang dapat dipelajari dari kunjungan sosial ke Sanggar Akar menurut saya kegiatan ini harus terus dilanjutkan dan dikembangkan lebih lagi. Kegiatan yang dilakukan tentunya juga bukan hanya untuk bersenang-senang saja bersama mereka tetapi benar-benar diarahkan untuk membantu masa depan mereka kelak. Mungkin kita bisa bertanya kepada mereka minat dan bakat mereka berada di bidang apa dan setelah kita mengetahuinya, kita dapat mencari salah satu anggota kader yang memiliki kemampuan lebih di bidang tersebut lalu membantu mengembangkan bakat yang mereka, tujuannya agar setiap anak benar-benar merasakan manfaat dari adanya kunjungan sosial yang kita lakukan. Contohnya, anak A memiliki bakat di bidang musik dan ternyata salah satu anggota kader ada yang memiliki kemampuan lebih di bidang yang sama. Anak kader ini dapat membantu anak A dalam mempelajari lebih dalam mengenai musik dan menjawab pertanyaan-pertanyaannya di bidang tersebut, melihat kita memiliki lebih banyak akses untuk mencari informasi melalui internet dan media massa lainnya menurut saya kita pasti dapat membantu mereka. Selain memperluas pengetahuan anak-anak Sanggar, kegiatan minat dan bakat ini juga membuat bakat anak-anak kader lebih berkembang karena bila kita mengajarkan orang lain kita pun belajar untuk diri kita sendiri. Ketika kita mencari informasi baru untuk mereka, kita pun menambah informasi yang kita miliki.


Jimmy Lim

Bagi saya sanggar anak akar adalah sebuah tempat dimana saya belajar banyak hal. Yang paling utama bagi saya adalah belajar bersosialisasi. Melalui sanggar anak akar, saya berusaha untuk bisa terjun ke dunia sosial yang lebih luas. Saya tidak hanya belajar secara akademis di sekolah, atau bersosialisasi hanya dengan teman-teman yang bisa dikatakan kaum-kaum berada. Disini saya belajar untuk membuka mata dan mengenal lebih banyak lagi orang-orang di luar sana. Mulai dari wataknya, hingga gaya hidup banyak orang di Indonesia yang sangat kontras, yang membuat saya lebih berpandangan global.

Saya pernah bertemu dengan seorang anggota DPRD. Saya juga sempat berbincang-bincang dengannya. Yang saya temukan adalah kesombongan, ketidak-ramahan, juga kemewahan. Memang, saya senang waktu itu disuguhi berbagai macam kue-kue yang terlihat mahal. Tapi gayanya itu, minta ampun sombongnya. Sangat kontras sifatnya dengan penduduk di daerah Penas, salah satu tempat yang saya datangi sebagai program dari Sanggar Anak Akar.
Kesan:
Penduduk sekitar sangat ramah. Kami yang berlalu-lalang selalu diiringi dengan senyuman yang tulus dari kebanyakan warganya. Anak-anaknya juga sangat rajin dan antusias. Membuat saya juga bersemangat untuk mengajarkan hal-hal baru kepada mereka. Pernah sesekali anak-anak laki-laki bertengkar memperebutkan bahan. Ada juga yang tidak mau membagi bahan kepada temannya. Saya memandang itu bukan dari kenakalannya, tetapi bagi saya, tindakan anak itu sangat menyadarkan saya dan memotivasi saya. Selama ini saya bekerja selalu ingin ditemani orang lain dan selalu bergantung pada orang lain. Melihat anak itu, saya sadar bahwa ada saatnya saya harus berani bekerja sendiri dan tidak melibatkan orang lain untuk turut campur dalam pekerjaan itu.

Pesan & Saran:
Untuk sanggar anak akar, saya sangat mengharapkan agar kegiatan yang kami lakukan bisa diberikan variasi. Tidak hanya mengajar membuat bahan-bahan daur ulang mungkin, tetapi juga me-review pelajaran-pelajaran sekolah.

Kanti S. Pernama

3 kali saya ke Sanggar, yang pertama kami melakukan tahap perkenalan dan adaptasi. Dan penilaian pertama yang saya dapatkan adalah mereka sangat ramah. Mereka berbeda dari apa yang sebelumnya saya bayangkan. Lalu yang kedua kalinya kami datang saat sanggar mengadakan acara bazaar. Kami ikut berpartisipasi dan bersosialisasi dengan mereka. Saya menemukan bahwa mereka sangat kreatif dan mampu menggunakan semua pengetahuan yang mereka dapat menjadi sesuatu yang dapat berguna bagi orang lain. Untuk yang ketiga kalinya, kami pergi ke PENAS, dan mengajarkan bagaimana membuat boneka dari kaos kaki bekas. Mereka sangat antusias untuk belajar dari kami, dan mereka menghasilkan boneka yang unik-unik, hasil daya imajinasi mereka.

Kesan saya setelah melakukan aktifitas ke sanggar adalah mereka, orang-orang yang kekurangan, justru lebih giat dan lebih bersemangat untuk meraih mimpi mereka. Anak-anak itu tidak takut untuk bermimpi, karena mereka memiliki niat untuk mencapai apa yang mereka mimpikan. Satu hal yang jarang dimiliki oleh orang-orang yang sudah berkecukupan. Saya rasa kita semua harus belajar dari mereka, karena banyak sekali pelajaran hidup yang tidak bisa kita dapatkan dari sekolah.

Program ini baik, dan mampu membuka mata kita tentang kehidupan lain yang jauh dari kehidupan kita. Tapi pemilihan waktunya akan menjadi kurang efektif bagi kita anak-anak kelas 12. Karena kebanyakan dari kita, akan memiliki jadwal bimbel pada hari minggu, dari pagi sampai sore. Lalu, pembagian kelompok dan pemberitahuan jadwal berangkat kurang terorganisir, sehingga tidak ada persiapan dan agak membingungkan.

Lebih baik jika dibuat jadwal dan kelompok yang pasti, sehingga kedepannya akan lebih terorganisir. Lalu, beberapa hari sebelum jadwal keberangkatan, akan sangat membantu jika kelompok yang akan berangkat, diingatkan kembali.

Christa Levina D.


1. Kegiatan yang pernah dilakukan di sanggar anak akar?

Saya sudah pergi ke sanggar anak akar selama 2 kali. Kegiatan yang dilakukan pada saat pertama kali adalah berkenalan dengan anak-anak di penas tanggul, karena kebetulan dari semua anggota yang ada di kelompok saya baru pertama kali pergi kesana. Setelah itu saya dan semua anggota membagi mereka menjadi 4 kelompok dan membagikan beberapa stik eskrim untuk masing-masing kelompok. Kami mengajak anak-anak tersebut untuk membuat sesuatu dari stik eskrim tersebut. Kegiatan yang kami lakukan berlangsung sekitar kurang lebih 1 jam setengah. Setelah berpamitan, kami pun pulang. Pada kesempatan yang kedua saya pergi ke penas tanggul, kegiatan yang dilakukan pertama adalah bernyanyi bersama anak-anak tersebut. Setelah itu, saya dan teman-teman dari anggota kelompok mengajarkan anak-anak untuk membuat gelang atau kalung dari bahan yang mudah mereka dapatkan, yaitu tali rafia. Setelah kegiatan itu berakhir, kami pun berpamitan.

2. Kesan bagi saya

Menurut saya, kegiatan-kegiatan yang kami lakukan bersama anak-anak yang tinggal di lingkungan seperti penas tanggul memberikan banyak pengalaman. Dari kegiatan-kegiatan yang telah saya lakukan saya belajar untuk tetap berjuang keras meskipun keadaan sedang susah. Penduduk di penas tanggul merupakan penduduk yang tergolong dengan kehidupan ekonomi serba berkekurangan. Tetapi dengan keadaan mereka yang sedemikian rupa, mereka tetap berjuang untuk bisa bertahan hidup. Anak-anak yang berada di penas tanggul juga terlihat semangat dan senang dengan kedatangan kami. Mereka mau bekerja sama dan berusaha untuk mengikuti setiap kegiatan yang kami buat.

3. Saran dan kritik

Kegiatan yang dilakukan untuk di penas tanggul tetap diperhatikan tingkat kemudahannya, karena anak-anak disana kebanyakan masih terlalu kecil.


Noviana


Saya sudah melakukan kunjungan ke sanggar anak akar sebanyak 2 kali. Kunjungan pertama dilakukan bersama dengan kelompok saya yang juga didampingi oleh Pak Alex. Kegiatan kami adalah membuat tempat pensil dari kardus. Saat kami datang, anak-anak di sana masih belum terlalu aktif, jadi kami berusaha untuk mengajak mereka untuk ikut melakukan kegiatan dengan kami. Sebelum memulai membuat tempat pensil, kami mengajak anak-anak di sana bermain terlebih dahulu. Adanya permainan cukup menarik partisipasi dari beberapa anak. Saya merasa cukup senang saat melakukan kunjungan pertama ini, walaupun keadaan di sana sedikit di luar perkiraan saya. Mereka tinggal di pemukiman yang terbatas. Walaupun begitu, beberapa di antara anak-anak itu sudah bersekolah.

Kunjungan kedua saya lakukan bersama dengan beberapa anggota KASA secara acak, yang didampingi oleh Ibu Purwi. Kegiatan kami saat itu adalah membuat bintang-bintangan dari kertas. Walaupun kami tidak memulai kegiatan hari itu dengan permainan, anak-anak di sana pada saat kunjungan saya yang kedua ini sangat antusias. Mereka lebih aktif dan suasana kegiatan pun jadi lebih menyenangkan daripada kunjungan saya yang pertama. Dari bintang-bintangan itu, kami membantu mereka membuat berbagai barang, seperti kalung dan gelang. Anak-anak diberikan kertas yang sudah dipotong-potong, kemudian diajarkan cara membuatnya. Suasananya lebih lepas dan kami bisa berinteraksi dengan anak-anak di sana dengan cukup baik. Kendalanya adalah saat itu sedang turun hujan, jadi air hujan itu merembes ke pondok tempat kami melakukan kegiatan. Tapi kegiatan tetap berlangsung dengan baik walaupun begitu.

Lady
Apa yg pernah dilakukan :
Mengunjungi sanggar anak akar sebanyak 1 kali. Melihat-lihat kondisi sanggar dan memberikan permainan serta kegiatan ketrampilan untuk anak-anak.
Kesan : Menyenangkan dan sangat menantang. Karena ini merupakan pengalaman baru bagi saya. Saya bisa belajar untuk sabar dalam mengajari ketrampilan kepada anak-anak. Serta mendengar berbagi cerita dan keluh kesah mereka.

Tuesday, April 27, 2010

2010 WORLD UNIVERSITY RANGKING


1. 1. 1 . . Massachusetts Institute of Technology United State

Spanning five schools — architecture and planning; engineering; humanities, arts, and social sciences; management; and science — and more than 30 departments and programs, an education at MIT covers more than just science and technology.
Arts, business, foreign languages, health and more complete an education at MIT, and the Institute makes freely available its class lecture notes, exams and videos through MIT's

2. 2. Stanford founded the University United State

Located between San Francisco and San Jose in the heart of Silicon Valley, Stanford University is recognized as one of the world's leading research and teaching institutions.

Leland and Jane Stanford founded the University to "promote the public welfare by exercising an influence on behalf of humanity and civilization." Stanford opened its doors in 1891, and more than a century later, it remains dedicated to finding solutions to the great challenges of the day and to preparing our students for leadership in today's complex world.

3. 3. Harvard University United State

Harvard University is proud to be an integral part of Greater Boston. The vitality of our host communities, united with the academic and cultural power of Harvard, results in extraordinary, mutually beneficial relationships that enrich lives both at Harvard and in the community.

4. Universidad Nacional Autónoma de México (UNAM) Mexico

5. Berkeley University of California United State

Historical highlights, arranged by topic, following the campus's development — from UC's founding in 1868 to a turn-of-the-century building boom, a research explosion in the 1930s, the Free Speech Movement of the '60s, and Berkeley's key role today in science and technology revolutions.

6. Peking University China

Direkomendasikan oleh Departemen Pendidikan dan Kota Beijing Sains dan Teknologi Awards 2010 menerima direktori proyek nasional 19 Maret 2010 rilis. Dari jumlah tersebut, tujuh melaporkan proyek penilaian dari Universitas Peking. Sejak publikasi dalam waktu 60 hari dari tanggal dari setiap unit atau individu memegang keberatan terhadap proyek dapat dilakukan secara tertulis kepada penghargaan nasional yang diusulkan. Untuk rincian, lihat penghargaan nasional menjalankan situs Web (http://www.nosta.gov.cn ) "State kantor Sains dan Teknologi Penghargaan Pemberitahuan (No. 57)

7. University of Pennsylvania United Stated

With 165 research centers and institutes, research is a substantial and esteemed enterprise at Penn. As of fiscal year 2010, the research community includes over 3,800 faculty and over 1,000 postdoctoral fellows, over 5,400 academic support staff and graduate assistants, and a research budget of $814 million. The scale and interdisciplinary character of our research activities make Penn a nationally-ranked research university.

8. Cornell University United Stated

Once called "the first American university" by educational historian Frederick Rudolph, Cornell University represents a distinctive mix of eminent scholarship and democratic ideals. Adding practical subjects to the classics and admitting qualified students regardless of nationality, race, social circumstance, gender, or religion was quite a departure when Cornell was founded in 1865.

9. Shanghai Tjiao Tong University China

Shanghai Jiaotong University, lembaga Cina tertua pendidikan tinggi, yang secara langsung berada di bawah Departemen Pendidikan, Departemen Pendidikan dan membangun sebuah universitas utama nasional di Shanghai adalah sebuah "" nasional Lima Tahun Seventh, Eighth Lima Tahun "konstruksi kunci dan" 211 Project ", "Proyek 985" pembangunan universitas pertama. Setelah 113 tahun dari upaya tak henti-hentinya, Shanghai Jiaotong University telah menjadi "yang komprehensif, penelitian berbasis internasional" domestik kelas satu, universitas internasional terkenal, dan bergerak terus ke universitas kelas dunia. Akhir abad kesembilanbelas, Sino-Jepang perang usaha, marabahaya nasional. Mr Sheng, dan sekelompok orang yang berwawasan menjunjung tinggi, "diri pertama-penyimpanan hanya dalam, pertama kali harus mendirikan sekolah reservoir" kepercayaan, tahun 1896 di Shanghai Jiaotong University, mendirikan pendahulunya - Nanyang. Sekolah pada awal sekolah yang mematuhi "pencarian kebenaran studi, industri praktis," tujuan mengembangkan bakat "kelas" sebagai tujuan, Jing Qin agresif, gigih bekerja tanpa kenal lelah, pada abad kedua puluh dan dua puluhan dan tiga puluhan telah menjadi lembaga yang terkenal pendidikan tinggi , dikenal sebagai "MIT Oriental". Perang Anti-Jepang, para guru dan siswa dengan susah payah, Inland Chongqing, mematuhi sekolah, banyak siswa Pen untuk Pedang, medan pertempuran berdarah. Menjelang pembebasan guru dan siswa berperan aktif dalam revolusi demokratis, sekolah yang dikenal sebagai benteng "demokrasi." Pendirian Baru Cina, untuk memenuhi kebutuhan pembangunan ekonomi nasional, sekolah disesuaikan jumlah fakultas unggul, disiplin, lembaga-lembaga untuk mendukung pengembangan saudara dalam negeri; lima pertengahan tujuh puluhan, tanggapan sekolah untuk panggilan pembangunan bangsa barat laut Cina, setelah ke arah barat Gerakan dua sekolah, sekolah independen dan perubahan lain, untuk pembangunan sistem pendidikan tinggi Baru Cina, mempromosikan pembangunan sosialisme telah memberikan kontribusi penting

10. Yale University United Stated

Yale University comprises three major academic components: Yale College (the undergraduate program), the Graduate School of Arts and Sciences, and theprofessional schools. In addition, Yale encompasses a wide array of centers and programs, libraries, museums, and administrative support offices. Approximately 11,250 students attend Yale.

Wednesday, April 14, 2010

Distress Symptoms


  • Pounding heart
  • Teeth grinding
  • Frequent urination
  • Abdominal pain
  • Migraine headache
  • Constipation
  • Acne
  • Loss of appetite
  • Recurrent dream
  • Dry mouth
  • Sweaty palms
  • Low back pain
  • Hives
  • Diarrhea
  • Tics
  • Tendency to startle easily
  • Menstrual irregularity
  • Trembling / shaking
  • Sleep problems
  • Upset stomach
  • Headache
  • Fatigue
  • Itching skin
  • Blushing
  • Nightmare
  • “Lump in the throat
  • Sore / tense neck muscle
  • Excessive perspiration
  • Hair loss
  • Eczema

References:

· Leatz, Christine Ann. Unwinding: How To Turn Stress Into Positive Energy.

· Shafer, Walter. Stress Management for Wellness.


  • Sore muscles in limb
  • Biting fingernails / lips
  • Anxiety / feeling “uptight”
  • Cold hands or feet
  • Cold sores
  • “Tight” or sore shoulders
  • “Stuffy” sinuses
  • “Scratchy” or sore throat
  • Accident proneness
  • Absentmindedness
  • Withdrawn
  • Inability to concentrate on a task
  • Feeling depressed
  • Increased alcohol use
  • Increased smoking
  • Inability to respond sexually
  • Mental confusion
  • Crying
  • Considering suicide
  • Increased drug use
  • Can’t sit still
  • Impatience
  • Irritability
  • Hostility
  • Others

Effective Coping Behaviors

Effective Coping Behaviors

  • Physical Exercise
  • Breathing Exercise
  • Thought-Stopping Exercise
  • Massage
  • Balanced Diet
  • Talking to Friends
  • Crying
  • Yoga/ Stretching Exercise
  • Warm Baths
  • Listening to Music
  • Watching Television
  • Having Sex
  • Taking a Vacation
  • Taking Breaks
  • Giving Yourself Rewards
  • Organizing Homework/
  • Planning Work
  • Sleeping
  • Imagery Training
  • Behavior Rehearsal
  • Meditation/ Centering
  • Hobby
  • Talking to Family Members,
  • Spouse
  • Shouting
  • Biofeedback
  • Deep Muscle/
  • Progressive Relaxation
  • Hugs (getting/ giving)

  • Going to a Movie
  • Reading “Non-required Materials
  • Moderate Drinking
  • Taking Naps
  • Organizing Your Living/
  • Working Space
  • Seeking Professional Help
  • Improving Study Skills
  • Taking Classes to Improve Skills/
  • Learn New Activities
  • Reading
  • Window Shopping
  • Buying Clothes
  • Doing Arts/ Craft Activities
  • Clarifying Your Values
  • Recording Priorities
  • Thinking About Your Goals
  • Scheduling/ Budgeting Your Time
  • Playing a Sport
  • Playing with Your Children
  • Going Out with Friends
  • Using Community Services
  • Taking a Walk
  • Attending Plays, Concerts,
  • Sport Events
  • Practicing Saying No
  • Watching a Sunset/ Sunrise
  • Playing with/ Caring for a Pet
  • Tending Indoor/ Outdoor Plants

Ineffective Coping Behaviors

  • Denial / rationalization
  • Get involved in more & more work
  • “Anger trip”/ blame others or circumstances
  • “Guilt trip”/ blame self
  • Excessive caffeine consumption (coffee, tea, chocolate, cola)
  • Excessive intake of alcoholic beverages
  • Smoking (tobacco, marijuana, opium)
  • Intake of addictive drugs (tranquilizers, sleeping pills, amphetamines/”uppers”, anti-depressants, mood-altering, mind-altering)
  • Dysfunctional eating
  • Sex for its own sake
  • Impulsive spending of money
  • Uncontrolled daydreaming
  • Self isolation

Tuesday, October 20, 2009

Live in st ursula BSD 2009

Refleksi dan Follow up Live in 2009

Kegembiraan:
Jurang Jero
1. Ketika berkumpul bersama
2. Ketika bekerja tanpa ada beban
3. Kekeluargaan
4. Ada tamu
5. Merasa dihargai
6. Saat panen
7. Anak sukses
8. Kebutuhan tercukupi
9. Fasilitas tercukupi
10. Saling berbagi
11. Saling bersyukur
12. Gotong royong
Logantung
13.

Harapan
Jurang Jero
1. Tidak ada bencana
2. gk kekeringan
3. bisa dpt air
4. anak sukses
5. hasil panen baik
6. tanggul kapel diperkuat
7. memajukan kehidupan desa
8. memajukan sarana dan prasarana
9. sekolah tinggi
Logantung
10. Keberhasilan panen
11. Anak sukses
12. Dpt renovasi rumah
13.

Kecemasan
1. Kesulitan mendapatkan akses air
2. Panen gagal
3. Bencana alam
4. Sakit (Fasilitas kesehatan kurang)
5. Hasil panen rendah
6. Biaya sekolah
7. Jarak sekolah jauh
8. Sumber air
9. Tanggul Kapel yang jebol
Lo Gantung
10. Tdk bisa mengolah tanah
11. Anak merantau
12. Hasil panen tdk cukup 1 thn
13. Kegagalan panen
14. Anak muda merantau
15. Kekeringan
16. Letak geografis kering

Tantangan:
Jurang Jero
1. Pengadaan air
2. Pendidikan
3. lahan terbatas karena tanah warisan
4. transportasi hasil bumi utk ke pasar
5. penghasilan terbatas
6. hidup lebih baik


Potensi
Jurang Jero
1. Daya juang tinggi
2. Semangat tinggi
3. Solidaritas
4. rasa bersyukur
5. kemauan keras
6. fisik kuat
7. semangat gotong royong
Logantung
8. Tekun
9. Pny ladang

Action Plan
Jurang Jero
1. Mencari dana utk mendapatkan air (saluran air dan jetpump)
2. Pengumpulan pakaian layak pakai (disortir sesuai kebutuhan rumah2)
3. Mencari dana utk pondasi kapel
4. Pengumpulan dana dari anak-anak kelas XII
Logantung
5. Mengirim mainan yg mendidik
6. Menyumbangkan buku bacaan dan membuat semacam taman bacaan kecil
7. Mesin pencacah utk kompos

Pertanyaan dan jawaban
1. Masa cm menyumbang? Kl gk bs memakai gmn?
Harus ada penyuluhan
Action plan yg menyumbangkan buku bacaan dan membuat semacam taman bacaan kecil dan org tua?
Tempat blm tau, akan menghubungi org yg disana, lokasinya cari yg strategis, kontribusi qt dsn adlh menyumbangkan saja lalu ada wakil yg menyumbangkan disana.
2. Di Tobong bkin kompos: Kotoran hewan dan daun-daun kering di kumpulkan jadi 1, di musim kering membuat, kl musim hujan dipakai

Fokus utk action plan semua desa: Konsen umum di pendidikan…

Wednesday, July 29, 2009

Startegic Challenges St Ursula BSD

Strategic challenges St Ursula BSD

Dalam dunia pendidikan dan pengajaran, perubahan budaya –sosial, teknologi dan peradaban dapat mempengaruhi strategi pengajaran secara umum dengan adanya penyesuaian kurikulum maupun secara strategi khusus di dalam kelas. Guru sebagai sosok pemerhati, pengembang, dan pelaksana kurikulum harus memiliki karakter pendidikan yang msmpu menciptakan gaya hidup, life being system.
Beberapa hal yang perlu dimiliki pendidik :
A. Keberanian pengajar/pendidik mempertanyakan
IT :mengingat, menganalisis, mengobservasi, mensintesakan, memikirkan, dan mempertanyakan
dengan IQ untuk menjadikan ;
ME : Hubungan/relasi,
dengan EQ yang dapat ;
US : direfleksikan, dipercaya dan didoakan, dengan menggunakan SQ
Jadi IT berkaitan mengajar subjek, ME berkaitan arti hubungan/relasi sedangkan US untuk mendidik siapakan anda.
Bagaimana IT-ME-US dapat dilakukan di dalam proses pembelajaran? Ada beberapa tahapan pembelajaran anata lain :
1. Tahap pertama, pendidik perlu mengajak siswa untuk melakukan pengolahan dengan menggunakan IQ melalui kegiatan :
- mengingat (hafalan) menjadi menganalisa
- Mengobservasi menjadi mensintesakan
- Memikirkan menjadi mempertanyakan
2. Tahap kedua, pendidik perlu mengajak siswa untuk mengkaitkan antara hal-hal yang diperolehnya dari pengetahuan yang ada dengan kehidupan. Ilmu yang didapat oleh siswa tidak boleh berhenti hanya sebatas pengetahuan saja tetapi pendidikan perlu mengajak siswa menerapkan, mengkaitkan dengan realitas kehidupan mereka dalam masyarakat
3. Tahap ketiga, pendidik mengajak siswa untuk melakukan refleksi dengan melihat nilai-nilai hidup yang diperoleh dengan mempelajari suatu ilmu pengetahuan. Refleksi terhadap nilai-nilai hidup-core value merupakan tujuan utama dari proses pembelajaran, bukan hanya ditekankan oleh guru KWN atau agama saja tetapi semua guru perlu mengajak siswa merefleksikan nilai hidup apasaja yang diperolehnya setelah mengikuti suatu proses pembelajaran. Contoh 10 nilai hidup yang coba diterapkan pada sekolah saya, antara lain :
Kedisiplin, kejujuran, penghargaan, kepekaan, kepedulian, kerjasama, daya juang, religiositas, kemandirian dan cinta lingkungan
Dalam proses belajar mengajar pendidik perlu mempertanyakan sejauhmana pengatahuan yang diajarkan dapat menginternalisasikan nilai-nilai yang ada di dalamnya sehinggan dapat bermanfaat tidak ahany bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi lingkungan sekitar. Pada tahap ini siswa diajak tidak hanya menerima pengetahuan tetapi juga memberikan manfaatnya bagi orang lain.
Beberapa kecenderungan arah pendidikan di Indonesia adalah penekanan pada persiapkan siswa untuk kerja/karir dan menempatkan hidup pada sesuatu yang dihubungkan dengan ekonomi, system eksternal dan material. Sebenarnya akan lebih baik bila pendidikan lebih menitik beratkan pada pada bagaimana siswa mempersiapkan hidup yang bernilai (panggilan) dan menciptakan gaya hidup, life being system. Semoga kita tidak terjebak pada hal-hal yang bersifat praktis dan teknis belaka.

Tuesday, July 28, 2009

Peneltian Tindakan Kelas

Teman-teman guru seindonesia, kami guru st Ursula BSD, mencoba membangun budaya sharing- berbagi pengalaman. Tulisan berisi berbagai hasil penelitian dari guru dengan disiplin ilmu yang berbeda. Kami masih belajar mohon maaf kalau hasilnya kurang memadai. Paling tidak kami sudah berbuat sesuatu untuk meningkatkan kualitas guru dan siswa. Terima kasih.
Topik Penelitian
Penilaian berbasis portofolio dalam pembelajaran Fisika di SMA kelas XI IPA
Oleh : Alex Prabu
guru Fisika SMA Santa Ursula BSD


Latar belakang

Di dalam suatu sistem pengajaran atau pelatihan bisanya setelah selesai pengajaran atau pelatihan diadakan penilaian untuk mengukur sejauhmana proses pendidikan dan pengajaran tersebut telah dikuasai oleh peserta didik atau belum. Angka atau nilai tertentu biasanya dijadikan patokan untuk menentukan penguasaan program tersebut. Jika dianggap telah menguasai maka ia dinyatakan lulus, sebaliknya jika dianggap belum menguasai maka ia dinyatakan tidak lulus. Kriteria ketuntsan belajar menjadi patokan bagi guru atau sekolah untuk menilai siswa lulus atau tidak untuk kompetensi dasar tertentu. Berdasarkan standar ketuntsan SMA Santa Ursula BSD, yaitu siswa kelas XI IPA dikatakan tuntas bila mereka mendapatkan nilai ≥ 73,00, maka misalkan siswa A mendapat nilai 70,00 pada kompetensi dasar yang diujikan maka dikatakan ia tidak tuntas dan harus mengulang sampai mencapai ketuntasan. Jika siswa B mendapat nilai 88 maka ia sudah tuntas dan boleh melanjutkan kompetensi yang berikutnya.
Ilustrasi di atas menjelaskan makna penilaian secara sempit. Mengapa dikatakan demikian? Sebab penilaian itu pada hakekat-nya tidak hanya dilakukan sesaat, akan tetapi harus dilakukan seca­ra berkala dan berkesinambungan.
Adanya berbagai kelemahan pelaksanaan penilai­an yang dilakukan sesaat dan parsial tersebut, dikembangkanlah sistem penilaian yang lebih komprehensif yang mempertimbangkan segala aspek dari peserta didik dan dilakukan secara berkala dan berkesinambungan. Misalnya untuk menentukan nilai rapor siswa, seorang guru menyimpulkannya dari rata-rata hasil ulangan harian, ulangan umum, tugas-tugas terstruktur, catatan perilaku harian siswa dan laporan kegiatan siswa di luar sekolah yang menunjang kegiatan belajar. Semua indikator proses dan hasil belajar siswa itu ternyata terdapat dalam catatan atau dokumen. Salah satunya yang kami sebut di SMA Santa Ursula BSD adalah tugas kecil.
Selama ini tugas kecil sudah dilakukan namum belum pernah diteliti seberapa jauh manfaat yang dirasakan siswa dan kesulitan apasaja yang dihadapi siswa didalam membuat tugas tersebut. Sebelumnya beberapa siswa sangat antusias membuat tugas bahkan sebelum batas waktu pengumpulan ada siswa yang sudah mengumpulkan tetapi dilain pihak ada juga siswa yang kurang tertarik dan tidak pernah membuat tugas tambahan tersebut.


Pertanyaan riset
1. Mengapa siswa tertarik membuat tugas tambahan
2. Adakah manfaat bagi siswa dalam membuat tugas tambahan
3. Kesulitan apasaja yang siswa alami ketika membuat tugas tambahan
4. Apakah usulan agar tugas tambahan lebih bermanfaat dan mudah dibuat


Landasan Teori
Proses pengajaran yang dilakukan di dalam kelas maupun di luar bertujuan untuk menciptakan sutau iklim belajar yang konduksif dan terus menerus. Terkadang guru yang sudah cukup lama mengajar, tanpa menyadari perlunya perubahan ataupun melihat kembali sejauhmana sistem, metode yang dipakai memberikan dampak positif bagi guru dan siswa. Menurut Paul Suparno (Riset Tindakan untuk Pendidik, 2007), mengatakan bahwa menjadikan guru atau pendidik dalam melakukan refleksi terhadap apa yang dibuat dan menjadi tugasnya sehingga tidak berjalan rutin belaka. Guru dapat mengevaluasi apa yang telah dilakukan, lalu memperbaiki kekurangannya.
Model Penilaian Berbasis Portofolio (Portfolio Based Assessment) mengacu pada sejumlah prinsip dasar penilaian. Menurut Dr. Dasim Budimansyah, M. Si. (2002), prinsip-prinsip dasar penilaian dimaksud adalah penilaian proses dan hasil, penilaian berkala dan sinambung, penilaian yang adil, dan penilaian impikasi sosial belajar.
1. Prinsip Penilaian Proses dan Hasil
Model penilaian berbasis portofolio menerapkan prinsip penilaian proses dan hasil sekaligus. Proses belajar yang dinilai misalnya diperoleh dari catatan perilaku harian atau catatan anekdot mengenai sikapnya dalam belajar, antusias tidaknya dalam mengikuti pelajaran, dan sebagainya. Aspek lain dari penilaian proses misalnya menilai tugas-tugas terstruktur yang diberikan guru. Apakah tugas-tugas tersebut dikerjakan dengan baik, tidak asal jadi. Apakah untuk mengerjakan tersebut ia mempelajari lebih banyak sumber bacaan.
2. Prinsip Penilaian Berkala dan Sinambung
Model Penilaian Berbasis Portofolio menerapkan penilaian berkala. Dalam menilai hasil misalnya, secara setiap selesai satu satuan pelajaran diadakan ulangan harian dan tugas tertruktrur. Dalam menilai Tugas terstruktur sebagai tagihan misalnya, diberikan satu satuan pelajaran dan direkap setiap minggu/bulan
3. Prinsip Penilaian yang Adil
Penilaian yang baik hendaknya memperhatikan kondisi dan perbedaan-perbedaan individual Mengapa kondisi dan perbedaan-perbedaan individual perlu diperhatikan ? Karena kedua hal itu berkaitan dengan masalah keadilan. Tidak adil jika seorang siswa dinyatakan naik atau tidak naik kelas hanya berpedoman pada hasil ulangan umum misalnya, tanpa memperhitungkan kondisi dan perbedaan-perbedaan individual setiap siswa.
4. Prinsip Penilaian Implikasi Sosial Belajar
Model Penilaian Berbasis Portofolio tidak terbatas pada menilai kemampuan kognitif semata-mata, akan tetapi menilai juga kemampuan-kemampuan yang lain, termasuk di dalamnya menilai implikasi sosial belajar.
Beberapa manfaat penilaian berbasis portofolio memberikan beberapa manfaat bagi guru, antara lain :
1. Melakukan pengecekan indikator-indikator perkembangan belajar siswa.
2.Memantau perkembangan kemampuan belajar siswa, baik memantau hasil maupun proses belajarnya.
Memberikan penghargaan terhadap siswa yang perkembangan belajarnya sangat istimewa, semisal dengan cara memberikan pujian, memberikan penguatan kembali (reinforcement) kepada siswa yang memperlihatkan gejala penurunan kemampuan belajarnya, dan memberikan dorongan kepada para siswa yang kemampuan belajarnya lambat.


Metode Pengumpulan data
Metode pengumpulan data disesuaikan dengan maksud dan tujuan penelitian dan mengacu pada siklus penelitian. Ada dua siklus dalam penelitian ini
Siklus pertama
Pembelajaran di dalam kelas dan diakhiri dengan mengingatkan pembuatan tugas kecil. Setelah itu mengadakan penyebaran angket, penugasan dan pengamatan.
Siklus kedua
Untuk memperkuat dan mengecek temuan maka dilakukan wawacara bagi siswa yang selalu membuat tugas tambahan dan yang tidak membuat tugas tambahan.


Data dan analisa data
Siklus pertama

1. Pada siklus pertama peneliti melakukan pengajaran seperti biasa yang terjadi yaitu ;
- Setiap memulai KD atau bab baru, memotivasi siswa lewat pengenalan KD melalui contoh-contoh penerapan dalam teknologi keseharian siswa maupun pengembangan ilmu.
- Memberikan pertanyaan pendahuluan sebagai prasyarat KD yang akan dipelajari
- Membuat janji ulangan harian
- Melakukan pengajaran dengan berbagai metode, minimal ceramah dan diskusi
- Mengajak dan mengingatkan untuk membuat tugas kecil dan memberitahukan kapan tugas paling lambat dikumpulkan. (Siswa tidak diwajibkan untuk membuat, jadi bersifat hanya bersifat anjuran)
- Mengkomunikasikan rublik penilaian (tabel 1.2-terlampir)
Sebelum ulangan harian dimulai biasanya beberapa siswa mengumpulkan tugas kecil dan saya tidak akan menerima lagi bila dikumpulkan setelah ulangan harian selesai. Untuk KD/materi ini, ada 17 siswa mengumpulkan tugas (tabel 1.2-terlampir).
2. Melakukan pengumpulan data melalui angket
Angket disebar kepada seluruh siswa dengan katagori siswa yang pernah membuat tugas kecil dan belum pernah membuat.
Hasilnya sebagai berikut :
Siswa yang pernah membuat tugas kecil sebelumnya



Dari angket yang telah diisi, ternyata sebagian besar siswa mengerjakan tugas sehari sebelumnya padahal pemberitahuan tugas kecil ini sudah diberitahukan minimal satu minggu sebelumnya. Hal ini dikarena kebiasaan siswa menunda pekerjaan. Mereka tertarik membuat tugas tambahan ini karena adanya tambahan nilai yang diberikan, sekaligus bermanfaat menambah pemahaman konsep-konsep yang diberikan di dalam kelas dan sekalian belajar. Sumber yang paling banyak digemari oleh siswa adalah media internet. Hal ini dapat diapahami karena artikel yang di publikasikan dalam koran, majalah agak sulit untuk ditemukan.
Mengenai siapa saja yang membantu menyelesaikan tugas, ternyata sebagian besar menyelesaikan sendiri tanpa bantuan orang lain, dengan cara melihat buku teori dan membuat analisa sendiri. Skor 15 poin maksimal yang diberikan oleh guru bila membuat tugas dengan baik dirasakan cukup memadai. Selanjutnya mereka merasa puas membuat tugas kecil ini, karena merasa dapat menambah pemahaman konsep, memperjelas materi, mendapat tambahan nilai, belajar menganalisis, serta merasa puas mengerjakan sendiri. Sedangkan siswa yang tidak puas lebih karena merasa tidak memiliki kemampuan untuk menganalisis.
Saran dan usul mereka adalah tugas kecil tetap dilanjutkan bahkan diwajibkan pada semua siswa, namun diberikan cara menganalisis yang benar dan diberikan cara mencari sumber yang baik. Untuk penambahan nilai mereka mengusulkan agar penambahan tetap terjadi jika ulangan mereka pada KD ini sudah mendapat 100. Mengenai waktu pengumpulan tugas di lakukan 2 -3 hari setelah ulangan harian KD yang bersangkutan.
Siswa yang belum pernah membuat tugas



Bagi siswa yang belum pernah membuat tugas kecil, mereka kesulitan melakukan pembahasan dan mencari artikel yang berhubungan dengan KD/materi yang bersangkutan. Mereka juga merasa bahwa teori yang telah diberikan di dalam kelas sudah cukup memadai untuk memahami KD/materi yang dipelajari. Ketika ditanya apakah mereka berkeinginan membuat tugas kecil di kemudian hari? Sebagian ingin dan sebagian lagi tidak ingin. Tidak ingin karena kurang waktu (banyak tugas pelajaran lain), sulit memahami, malas serta koneksi internet kurang baik. Sebagai usulan mereka minta diingatkan 1 minggu sebelum waktu akhir pengumpulan dan diberikan contoh cara pembahasan.

Refleksi
Pada siklus pertama ini saya merasa bersemangat sekali mendengarkan dan melihat hasil evalusai siswa terhadap pengajaran berbasis fortopolio (saya sebut tugas kecil) karena tugas ini sudah lama saya lakukan namun belum pernah dievaluasi. Apalagi melihat bahwa siswa mendapat manfaat dari segi nilai maupun kemampuan memahami konsep dan menganlisis. Kebanyakan siswa bahkan meminta agar kegiatan ini diwajibkan pada seluruh siswa namun saya berfikir tetap saja dulu memberikan kebebasan pada siswa untuk menentukan pilihan terbaik bagi mereka. Hal ini penting agar siswa tidak terbebani dan mendidik siswa untuk mandiri. Untuk siswa yang tidak membuat tugas lebih karena mereka kurang memahami cara menganalisis dan mencari artikel. Kalau kedua hal ini diperbaiki atau diberikan contoh maka kemungkinan besar banyak siswa yang tertarik untuk membuat tugas kecil ini.
Pada pertemuan selanjutnya saya akan memberikan contoh artikel serta pembahasan yang mendapat skor tertinggi dan pembahasan dari artikel yang mendapat skor terendah.

Siklus Kedua
Materi Kompetensi dasar pada siklus pertama sudah selesai. Pada siklus kedua saya memberikan materi baru yaitu Thermodinamika. Langkah pengajaran di dalam kelas sama seperti pada siklus pertama, namun pada awal pelajaran saya memberikan contoh pembahasan dari artikel yang berasal dari salah satu siswa yang mendapat skor tertinggi dan yang terendah. Memberikan masukan hal-hal apasaja yang perlu diperbaiki agar mendapat skor tinggi. Saya juga memberikan kemungkinan topik yang menarik untuk dibahas yang berhubungan dengan materi ini. Setelah itu, mengkomunikasikan hasil angket baik yang tertarik maupun yang kurang tertarik. Pada bagian akhir, saya sekali lagi mengingatkan siswa untuk membuat tugas kecil dan mengumpulkannya pada saat paling lambat sebelum ulangan harian untuk KD/materi ini.
Pada pertemuan berikutnya, disela-sela waktu siswa latihan soal, saya melakukan wawacara dengan cara mendekat beberapa siswa. Siswa yang diwawancarai adalah siswa yang selalu membuat tugas sebanyak dua orang, dua orang jarang dan yang belum pernah dua orang. Wawancara bersifat terbuka dengan pertanyaan pokok ; bagaimana pendapat mereka tentang tugas kecil yang diberikan selama ini. ” Pak bagaimana kalo tugas ini diwajibkan saja, pak !. sebab ia melanjutkan, ” kalo tidak diwajibkan siswa merasa tidak perlu dan tidak sadar bahwa ini berguna.” demikian salah seorang siswa yang selalu membuat. Berbeda dengan siswa jarang membuat tugas, ia merasa tidak perlu diwajibkan. Menarik bagi saya, ini datang dari siswa yang tidak pernah membuat tugas, ia mengatakan bahwa,” saya akan membuat tugas terakhir kali dalam semester ini, pak! tapi bapak bantuiin ya mencari artikelnya”. Keenama siswa menilai bahwa tugas kecil ini bermanfaat dan perlu dilanjutkan lagi dengan bimbingan yang lebih terarah. Semuanya sepaham bahwa tugas ini perlu untuk menambah wawasan siswa serta membantu pemahaman dan yang lebih penting lagi mereka mendapat tambahan nilai. Tetapi mereka tetap meminta bantuan agar dijari cara menganalisis dan mencari artikel yang sesuai dengan KD/ materi yang bersangkutan.
Pada siklus kedua, siswa mengumpulkan tugas kecil, terjadi peningkatan yang cukup menggembirakan. Ada 24 siswa yang mengumpulkan tugas, padahal pada siklus pertama ada 17 siswa saja. (tabel 1.2-terlampir)
Refleksi
Pada siklus kedua ini, saya merasa diyakinkan lewat pembicaraan dengan beberapa siswa bahwa yang dilakukan selama ini sudah benar, dan sungguh dapat membantu mereka dalam pemahaman konsep dan teori yang diberikan. Itu berarti, guru sudah melakukan penilaian yang adil dan utuh tidak hanya dari sisi ulangan tertulis saja. Saya merasa senang melihat adanya peningkatan jumlah siswa yang menumpulkan tugas. Membuat siswa bersemangat dan merasa dihargai oleh guru sungguh suatu kondisi yang mengangkat harga diri dan kepercayaan siswa. Efek jangka panjangnya bahwa mereka juga akan menghargai orang lain dan tidak melakukan penilaian hanya berdasarkan data yang tunggal saja.


Kesimpulan
Dari data dan analisis data didapat bahwa metode pengajaran Fisika berbasis portofolio dalam bentuk pemberian tugas kecil cukup menarik siswa untuk mencoba memahami Fisika lebih jauh lagi, disamping mereka merasa ada manfaat mengerjakan tugas kecil karena mendapat tambahan nilai, dan siswa merasa lebih faham terhadap konsep dan teori fisika yang dijarakan dikelas. Kesulitan-kesulitan yang dialami siswa adalah lebih pada tehnik bagaimana melakukan analisis dan bagaimana mencari artikel yang sesuai. Sebetulnya kedua hal ini jangan sampai menjadi kendala untuk siswa. Guru dapat mengambil peran sebagai orang yang pernah melakukan analisis serta membantu siswa untuk mencarikan contoh beberapa artikel yang ada di web, portal, media cetak dan media lainnya.

Rekomendasi
Untuk guru
1. Metode portofolio dapat dipakai sebagai salah satu variasi metode pengajaran
2. Metode ini dapat dipakai untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh sehingga siswa merasa dihargai dan hasil evaluasi dapat dipercaya.
3. Untuk memulai metode ini, guru harus memiliki pengetahuan yang luas tentang bahan/artikel baik isinya maupun sumber artikel sehingga dapat membantu siswa yang kesulitan menganalisis maupun mencari artikel yang baik.
4. Guru sebaiknya bersifat terbuka terhadap pendapat siswa dan menghargai setiap pendapat yang mereka tulis di dalam lembar tulisan.
5. Selalu mengingatkan siswa tentang deadline dan mengikuti perkembangan tulisan mereka, dan siap membantu jika mereka mendapat kesulitan.


Daftar Pustaka

Suparno, Paul. 2007. Riset Tindakan untuk Pendidik : Jakarta :Grasindo
Dr. Dasim Budiman, M.Si. 2002. Model pembelajaran dan Penilaian : Genesindo: Bandung